Opinikampus.com – Kisah Nathania memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi bisa menjadi ruang yang lebih setara ketika kampus, dosen, dan teman belajar mau beradaptasi dengan kebutuhan yang berbeda.
Pendidikan Tinggi dalam Kisah Nathania yang Inspiratif
Nathania Tifara dikenal sebagai entrepreneur muda yang membangun penerbit buku anak yang lebih ramah bagi difabel. Di balik pencapaian itu, ada perjalanan panjang yang dimulai sejak ia kehilangan pendengaran ketika masih kecil akibat meningitis. Dari titik itu, ia belajar bahwa pendidikan tinggi tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga soal ruang yang memberi kesempatan yang adil bagi semua mahasiswa.
Ketika ia memasuki masa sekolah dan kuliah, proses belajar tidak selalu mudah. Cochlear implant memang membantunya kembali menangkap suara, tetapi alat tersebut tidak menghapus seluruh tantangan. Pengalaman mendengar yang terbatas membuatnya harus lebih cermat membaca situasi, menebak konteks percakapan, dan mengandalkan ekspresi wajah maupun gerak tubuh orang di sekelilingnya.
Strategi Belajar yang Membuat Pendidikan Tinggi Lebih Setara
Nathania justru sejak awal terbuka kepada teman sekelas, pengajar, dan pihak kampus tentang kebutuhan pendengarannya. Sikap itu penting karena proses belajar yang inklusif sering kali dimulai dari komunikasi yang jelas. Bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus, kejelasan informasi bisa membantu kelas berjalan lebih aman dan lebih nyaman.
Ia juga menyusun strategi sederhana agar perkuliahan tetap bisa diikuti dengan baik. Duduk di deretan depan, memanfaatkan ringkasan dari teman, dan berdiskusi dalam kelompok kecil menjadi cara yang membantunya memahami materi. Dalam situasi tertentu, pilihan-pilihan kecil seperti ini justru menentukan lancarnya pendidikan tinggi.
Dukungan Dosen dan Teman Belajar
Salah satu pelajaran penting dari kisah Nathania adalah peran lingkungan. Ia tidak meminta perlakuan istimewa, melainkan ruang agar dosen, teman sekelas, dan kampus memahami kondisi yang berbeda. Saat kebutuhan disampaikan secara terbuka, proses belajar dapat disesuaikan tanpa mengurangi kualitas akademik.
Baginya, kuliah yang setara bukan berarti semua mahasiswa diperlakukan sama persis. Yang lebih penting adalah adanya kesediaan untuk menyesuaikan metode belajar, komunikasi, dan ritme kelas. Itulah sebabnya kerja sama antara mahasiswa, dosen, dan lingkungan kampus menjadi kunci.
Pengalaman Kuliah yang Membentuk Gagasan Baru
Tantangan paling besar datang saat ia menempuh Magister Manajemen di UGM dan kelas berlangsung daring pada masa pandemi. Untuk menjaga agar materi tetap tercatat dengan baik, ia memakai bantuan juru tulis, kadang teman dan kadang suaminya. Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi juga menuntut fleksibilitas dari sistem belajar.
Dari pengalaman tersebut, Nathania semakin yakin bahwa keberhasilan akademik tidak hanya bergantung pada kemampuan individu. Ada unsur kerja sama, empati, dan kesiapan lingkungan untuk beradaptasi. Tanpa itu, banyak mahasiswa dengan kebutuhan berbeda akan tertinggal bukan karena kurang mampu, tetapi karena sistemnya belum ramah.
Dari Bacaan Anak ke Ruang Belajar yang Inklusif
Pengalaman masa kecilnya turut membentuk pilihannya di dunia penerbitan. Ibunya sering menyediakan bacaan anak yang kaya visual dan membantu proses tumbuh kembangnya. Dari sana muncul kesadaran bahwa anak Indonesia juga membutuhkan media baca yang dekat dengan konteks mereka dan lebih inklusif terhadap keberagaman.
Kesadaran itu kemudian diwujudkan lewat usaha menerbitkan buku anak dan kehadiran Toko Buku Gumi Inspirasi. Bagi Nathania, buku bukan sekadar produk, melainkan medium belajar yang bisa membuka cara pandang baru. Inisiatif ini sejalan dengan semangat pendidikan tinggi: membangun pengetahuan, memperluas akses, dan menciptakan ruang tumbuh yang lebih luas bagi masyarakat.
Pelajaran untuk Mahasiswa dan Dosen
Kisah Nathania relevan untuk mahasiswa dan dosen karena memperlihatkan bahwa inklusi bukan jargon. Kelas yang ramah perbedaan membutuhkan komunikasi yang jujur, kebiasaan mendengar kebutuhan orang lain, serta keberanian menyesuaikan metode belajar. Jika kampus mampu melakukan itu, pendidikan tinggi akan lebih manusiawi dan lebih efektif.
Pada akhirnya, perjalanan Nathania memberi pesan sederhana namun kuat: hambatan tidak selalu harus membuat seseorang berhenti. Dengan dukungan yang tepat, ketekunan, dan lingkungan yang mau memahami, pendidikan tinggi bisa menjadi jalan untuk berkembang sekaligus memberi manfaat yang lebih luas.
Kesimpulan
Kisah Nathania menunjukkan bahwa pendidikan tinggi yang inklusif lahir dari kombinasi antara strategi pribadi dan dukungan lingkungan. Mahasiswa, dosen, dan kampus memiliki peran penting untuk memastikan setiap orang dapat belajar dengan lebih setara, tanpa kehilangan martabat maupun kesempatan untuk maju.





























