Opinikampus.com – Kisah Nathania Tifara memberi pelajaran penting bagi pendidikan tinggi: ruang belajar yang baik bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi juga keberanian kampus dan lingkungan akademik untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang berbeda.
Pendidikan tinggi dan ruang belajar yang lebih terbuka
Nathania kehilangan pendengaran saat masih kecil, lalu menjalani cochlear implant ketika berusia empat tahun. Namun, alat itu tidak menghapus seluruh tantangan. Ia tetap harus berlatih menangkap suara, membaca situasi, serta mengandalkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh agar percakapan tetap nyambung.
Di bangku kuliah, ia memilih untuk terbuka kepada teman, guru, dan dosen tentang kondisi pendengarannya. Langkah itu bukan untuk meminta perlakuan khusus, melainkan agar lingkungan kelas memahami kebutuhan yang berbeda dan memberi ruang belajar yang setara.
Dukungan sederhana yang membuat proses kuliah lebih lancar
Dalam keseharian akademik, Nathania memanfaatkan strategi yang sederhana tetapi efektif. Ia duduk di barisan depan, mengandalkan catatan teman, dan aktif dalam diskusi kelompok kecil. Ketika kuliah magister dijalankan secara daring pada masa pandemi, ia juga memakai bantuan juru tulis, kadang dari teman, kadang dari suami, untuk merangkum materi.
Dari pengalaman itu, terlihat bahwa keberhasilan belajar tidak bertumpu pada satu orang saja. Ada peran besar dari dosen, teman sekelas, dan sistem belajar yang mau beradaptasi. Bagi mahasiswa dan dosen, pelajaran ini relevan: penjelasan yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan kebiasaan saling menyesuaikan dapat memperkecil jarak dalam kelas.
Dari Guru Bumi ke Toko Gumi
Pengalaman masa kecil Nathania juga memengaruhi jalannya membangun Guru Bumi, penerbit buku anak yang ramah difabel. Ia terinspirasi dari buku-buku anak yang kuat secara visual dan dari kebutuhan akan media edukasi yang dekat dengan kehidupan anak Indonesia.
Dengan latar belakang Desain Komunikasi Visual, ia dan tim mengembangkan buku, permainan, dan media belajar yang tidak membatasi pembaca pada satu cara memahami isi. Guru Bumi lahir pada 2016 dengan misi menghadirkan buku anak yang relevan, dekat dengan alam, budaya lokal, dan tetap inklusif bagi beragam latar belakang anak.
Riset, visual, dan pengalaman belajar yang menyenangkan
Ensiklopedia anak yang mereka terbitkan disusun berbasis riset, lalu diperkaya oleh ilustrator lokal agar anak tidak hanya menghafal, tetapi juga mengamati. Tema yang diangkat pun dekat dengan keseharian, seperti tumbuhan dan pangan lokal, serangga, serta satwa endemik Nusantara.
Nathania juga mengembangkan board game edukatif yang bisa dimainkan sambil belajar. Kartu kuartet budaya, misalnya, menjadi salah satu media yang disenangi anak-anak teman tuli karena belajar bahasa isyarat dan kosakata visual bisa dilakukan bersama dalam suasana yang menyenangkan.
Ketika kemudian ia membuka Toko Gumi di Yogyakarta pada 2024, ruang itu tidak sekadar menjadi tempat jual beli buku. Toko tersebut dirancang sebagai ruang literasi kecil, perpustakaan mini, dan tempat kegiatan untuk anak serta keluarga. Ide ini lahir dari kenangan masa kecilnya saat melihat bagaimana toko buku dapat memantik imajinasi.
Pelajaran untuk pendidikan tinggi yang lebih inklusif
Bagi pendidikan tinggi, pesan dari kisah Nathania cukup jelas: akses yang baik lahir dari komunikasi yang jujur dan kemauan untuk menyesuaikan lingkungan. Ruang kelas, praktik kerja kelompok, dan layanan kampus akan jauh lebih ramah jika perbedaan kebutuhan tidak dianggap beban.
Nathania juga menegaskan harapan agar negara dan lembaga pendidikan membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan difabel. Menurutnya, pelatihan, magang, dan lingkungan kerja yang adaptif dapat memperluas pilihan hidup, bukan sekadar mendorong difabel masuk ke ruang-ruang khusus.
Untuk mahasiswa dan dosen, pesan terpentingnya adalah sederhana: inklusivitas bukan slogan. Inklusivitas adalah kebiasaan harian untuk saling memberi ruang, mendengar kebutuhan orang lain, dan membangun sistem belajar yang benar-benar bisa diakses semua pihak.
Kesimpulan
Kisah Nathania menunjukkan bahwa pendidikan tinggi yang inklusif tidak lahir dari fasilitas semata, tetapi dari budaya saling menyesuaikan. Saat dosen, mahasiswa, dan lingkungan kampus mau terbuka, proses belajar menjadi lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih kuat untuk semua.





























